Monday, October 5, 2009

Sebuah Catatan Hari Terakhir Kampanha Lideransa Komunitaria 2009

0 comments
Hari ini (6/10) adalah hari terakhir kampanha untuk Pemilu Lideransa Komunitaria 2009 sebelum memasuki masa tenang selama 48 jam menjelang hari-H pencoblosan. Sebagai kesempatan terakhir, sudah selayaknya setiap kandidat yang masuk dalam daftar tetap yang akan dipilih menggunakan hari ini untuk lebih aktif menjabarkan program-programnya kepada masyarakat level suku.

Memang jika kita bandingkan dengan pemilu legislative dan pemilu presidensial di tahun 2007 maka kampanha untuk pemilu kali ini sangat jauh berbeda. Kesemarakan layaknya sebuah prosesu penjabaran program-program para kandidat tidak terlalu terlihat, yang ada hanya poster-poster dan spanduk-spanduk yang isinya mengingatkan masyarakat untuk memilih pada hari-H kampanha tanggal 9 Oktober 2009. Disudut sudut kota Dili, terbentang spanduk dan poster “VOTA” yang banyak menggunakan perempuan sebagai icon public. Disudut sudut lainnya juga tampak ajakan memilih kandidat perempuan yang masuk dalam daftar tetap dan banyak lainnya. Tidak terlalu terlihat atau terdengar kampanha terbuka yang dilakukan para kandidat sebagai ajang pengenalan program-program kepada masyarakat.

Permasalahan keuangan agaknya menjadi masalah utama yang membuat kandidat berpikir dua kali untuk menguras kantong mereka masing masing demi untuk memperebutkan posisi Xefe Suku yang pendapatanya tidak terlalu besar. Begitupun dengan subsidi pemerintah yang diserahkan kepada 1208 pakote kandidat pada saat mereka melakukan janji kampanha damai ternyata banyak dikeluhkan dan lagi lagi mereka katakan subsidi ini tidak cukup. Memang jika dilihat besarnya yang hanya terhitung 125 dollar maka tidaklah terlalu cukup untuk mengadakan kampanha besar jika tidak ada pihak lain sebagai penyokong dana. Sebagai contoh, untuk mencetak poster saja, setiap kandidat harus mengeluarkan 3 – 5 dollar, cetak kaos bisa mencapai 5-7 dollar, sewa banda muzika dan sound system 100-300 dollar dan strategi kampanha yang ujung ujungnya akan menguras anggaran yang ada. Dengan uang 125 dollar ini, setiap kandidat harus memeras keringat untuk dapat memikirkan cara yang baik guna mengkampanhakan program-programnya.

Memang kurang lebih 6 hari masa kampanha yang telah berlalu, tidak terlalu banyak kandidat yang mengunakan strategi kampanye dengan cara pengerahan massa, atau menggunakan material kampanye lainnya. Hasil pemantauan lapangan di distritu Dili, kampanha door to door dan kampanha dengan penempelan photo kandidat di jalan-jalan menjadi salah satu jalan keluar untuk bisa mengajak masyarakat memilih kandidat yang ada dalam sukunya masing masing. Namun ini juga hanya terlihat disekitar Santa Cruz hingga Kuluhun dan jelas terlihat para kandidat mencoba memperkenalkan pencalonannya dengan menggunakan kertas A4 yang berisikan photo dan nama kandidat yang diprint-out dengan printer. Sederhana namun hal ini menjawab satu pertanyaan, kenalkan masyarakat suku dengan calon yang akan dipilihnya? Walaupun hanya dengan mengunakan print out media, masyarakat bisa mengenal siapa calon-calonya dan bagaimana program-programnya.

Kampanye sebagai masa penjabaran program program para kandidat untuk bisa menjawab permasalah di level suku ternyata banyak tidak dapat diguinakan dengan semaksimal mungkin untuk dapat mendekati masyarakat. Kadangkala ketika satu kandidat ingin mengadakan dialogo dengan masyarakat ternyata masyarakat tidak terlalu antusias untuk datang dan mendengarkan karena dirasa sebagai sesuatu yang tidak penting. Namun ada juga kandidata yang berhasil menghimpun masyarakat pendukungnya, berdiskusi dengan mereka dan mencoba merangkul masyarakat dengan program program yang bisa menjawab permasalah yang ada dalam suku. Kepintaran kandidat dalam mencari strategi kampanha yang baik dengan melihat anggaran yang ada.

Masyarakat sendiri juga harus lebih pro aktif dalam mencari informasi para kandidat yang akan dipilih pada tanggal 9 Oktober nanti dengan bertanya kepada lideransa aktual seperti xefe aldeia atau xefe suku. Akan lebih efektif lagi jika masyarakat pemilih bisa datang ke kantor kantor desa karena disanalah terdapat photo dan nama dari kandidat beserta orang-orang yang masuk dalam paket pemilihan (pakote). Tindakan pro aktif dari masyarakat pemilih diperlukan karena sulit dmidapatkannya informasi mengenai para kandidat. Memang pada hari-H pemilu, disetiap pusat pemilihan suara (Sentru Votasaun) akan ditempelkan daftar para kandidat dan orang orang yang masuk dalam paket pemilihannya (pakote) namun lebih baik jauh-jauh hari para pemilih bisa menentukan calon-calon berdasarkan hati nurani.

Hal penting lainnya, para pemilih harus mengetahui suku pemilihannya berdasarkan kartu eleitoral yang dimiliki (eleitor tenke ba vota iha suku ne’ebe ita regista ba). Bawalah kartu eleitoral ini untuk dapat memilih ditempat tempat yang telah ditentukan mulai jam 7 pagi hingga jam 3 sore. Di pusat pemilihan, setiap pemilih hanya akan mendapatkan 1 surat suara yang berisi photo dan nama kandidat xefe suku. Dalam proses ini, setiap pemilih harus mengenal wajah/photo dan nama kepala dari paket pemilihan yang ada (lideransa husi pakote) sebelum melakukan pencoblosan (tau marka). Jangan lupa, pemilih hanya diperbolehkan mencoblos satu kali pada kotak disamping nama kandidat pada surat suara. Saat mencoblos, yakinlah dengan kandidat yang dipilih karena ini akan menentukan masa depan pembangunan suku masing-masing. Setiap warga negara Timor Leste yang telah memenuhi syarat berdasarkan undang-undang pemilihan berhak menentukan pilihannya pada tanggal 9 Oktober 2009.

Satu hal yang harus diingat pada saat pencoblosan adalah pilihlah kandidat yang bisa membawa perubahan dan kemajuan di suku dimana kita berada. Perubahan ini meliputi area penciptaan kondisi kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis, pencatatan setiap penduduk, pendidikan politik, pembangunan ekonomi level suku, jaringan pengaman bahan makanan masyarakat, perlindungan lingkungan hidup, budaya, olahraga dan perawatan terhadap saran infrastruktura yang ada dalam lingkungan suku. Terlebih dari hal tersebut, kepemimpinan suku harus diberikan kepada kandidat yang mampu membawa suku ke kehidupan yang lebih baik dan lebih sensitive terhadap permasalahan masyarakat. Kandidat laki-laki atau perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai Lideransa Komunitaria 2009.

Dan jangan pernah lupa dengan kita memilih kandidat perempuan, kita telah melakukan investasi yang menguntungkan untuk masa depan kita. Investe ba Feto Investe Diak ba Futuru, Vota ba Feto – Vota ba Dame.(Fransiskus XS/ICP)***

0 comments:

Post a Comment